Depok – Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PW IPM) Jawa Timur menegaskan komitmennya untuk mengawal dan menyukseskan berbagai program Pimpinan Pusat (PP) IPM periode 2026-2028.
Komitmen tersebut disampaikan Ketua Umum PW IPM Jawa Timur, Yuda Wahyu, dalam sesi progress report Pimpinan Wilayah IPM se-Indonesia pada Rapat Kerja Nasional (Rakernas) PP IPM, Ahad (19/7/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi Bisnis dan Pariwisata (BBPPMPV Bispar), Depok, tersebut menjadi ruang evaluasi sekaligus koordinasi antara PP IPM dan seluruh PW IPM di Indonesia.
Dalam penyampaiannya, Yuda menjelaskan perkembangan gerakan PW IPM Jawa Timur serta sejumlah isu strategis yang perlu menjadi perhatian bersama. Tiga hal utama yang disampaikan meliputi komitmen mengawal program PP IPM, evaluasi terhadap peran pembina IPM, dan pengembangan IPM Kids sebagai program prioritas.
Siap Senergi dan Kolaborasikan Program PP IPM
Yuda menegaskan bahwa PW IPM Jawa Timur tidak hanya siap menjalankan program yang dirumuskan oleh PP IPM, tetapi juga akan mengembangkan pola kolaborasi agar program tersebut dapat diterapkan sesuai dengan kondisi pelajar di daerah.
Menurutnya, hubungan antara PP IPM dan pimpinan wilayah harus dibangun melalui koordinasi yang aktif, terbuka, dan berkelanjutan. Program organisasi tidak boleh berhenti pada perumusan kebijakan di tingkat pusat, tetapi harus diterjemahkan menjadi gerakan yang berdampak sampai tingkat daerah, cabang, ranting, dan sekolah.
“PW IPM Jawa Timur siap mengawal, mengkolaborasikan, dan menyukseskan program PP IPM periode 2026-2028. Kami ingin program yang telah dirancang bersama benar-benar dapat dirasakan manfaatnya oleh pelajar Muhammadiyah hingga tingkat bawah,” ujar Yuda.
Ia menambahkan, Jawa Timur memiliki struktur organisasi yang luas dan karakter pelajar yang beragam. Kondisi tersebut menjadi kekuatan sekaligus tantangan dalam melakukan konsolidasi gerakan.
Oleh karena itu, setiap program dari PP IPM perlu dikomunikasikan secara jelas agar dapat dikembangkan sesuai kebutuhan masing-masing daerah tanpa kehilangan arah dan tujuan gerakan nasional IPM.
Kritisi Peran Pembina IPM
Selain menyampaikan kesiapan menjalankan program organisasi, Yuda juga memberikan catatan kritis terhadap peran pembina IPM di berbagai tingkatan.
Menurutnya, pembina memiliki posisi penting dalam proses pendampingan kader dan keberlangsungan organisasi. Namun, pembinaan harus dilakukan dengan pendekatan yang memberikan ruang bagi pelajar untuk belajar mengambil keputusan, mengembangkan gagasan, serta bertanggung jawab terhadap organisasi.
Pembina, lanjut Yuda, seharusnya tidak terlalu jauh mengintervensi keputusan organisasi. Sebaliknya, pembina perlu menjadi pendamping, pengarah, dan mitra dialog bagi kader IPM.
“Pembina IPM harus menjadi tempat kader berdiskusi dan mendapatkan arahan, bukan justru mengambil alih ruang pengambilan keputusan pelajar. IPM merupakan organisasi pelajar sehingga proses belajar memimpin dan mengelola organisasi harus tetap diberikan kepada kader,” tegasnya.
Ia menilai bahwa pola pembinaan yang terlalu dominan dapat menghambat proses kaderisasi. Pelajar berpotensi kehilangan keberanian untuk menyampaikan gagasan, mengambil keputusan, dan menghadapi konsekuensi dari keputusan organisasi.
Karena itu, diperlukan kesamaan pemahaman antara pimpinan IPM dan para pembina mengenai batas pendampingan, pembinaan, serta kewenangan organisasi.
IPM Kids Menjadi Program Prioritas
Dalam progress report tersebut, Yuda juga memperkenalkan IPM Kids sebagai salah satu program prioritas PW IPM Jawa Timur.
Program tersebut diarahkan untuk memperkenalkan nilai-nilai dasar IPM, kepemimpinan, kreativitas, keislaman, dan kemuhammadiyahan kepada peserta didik sejak usia sekolah dasar.
Menurut Yuda, regenerasi organisasi tidak dapat dilakukan secara mendadak ketika pelajar telah memasuki jenjang sekolah menengah. Pengenalan terhadap budaya organisasi dan kepemimpinan perlu dilakukan sejak dini melalui metode yang menyenangkan serta sesuai dengan perkembangan anak.
“IPM Kids kami dorong sebagai ruang pengenalan awal terhadap nilai-nilai kepemimpinan, keislaman, kemuhammadiyahan, dan kepedulian sosial. Program ini bukan untuk membebani anak dengan struktur organisasi, tetapi mengenalkan semangat belajar, berani, kreatif, dan bertanggung jawab,” jelasnya.
Pelaksanaan IPM Kids nantinya dapat dikembangkan melalui permainan edukatif, kegiatan literasi, pembelajaran kepemimpinan sederhana, aktivitas sosial, serta pengenalan nilai-nilai Muhammadiyah.
Yuda berharap program tersebut dapat dikolaborasikan bersama sekolah Muhammadiyah, majelis pendidikan, serta berbagai unsur Persyarikatan lainnya.
Melalui forum Rakernas tersebut, PW IPM Jawa Timur berharap terbangun sinergi yang semakin kuat antara PP IPM dan pimpinan wilayah se-Indonesia. Sinergi itu diperlukan agar arah gerakan IPM periode 2026-2028 tidak hanya kuat dalam perencanaan, tetapi juga konsisten dalam pelaksanaan dan memberikan dampak nyata bagi pelajar Indonesia. PP IPM periode 2026-2028.

