Jakarta – Kesadaran menjaga lingkungan perlu dibangun sejak usia sekolah, bukan sekadar menjadi materi pelengkap dalam kurikulum. Berangkat dari semangat tersebut, Bidang Lingkungan Hidup Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PP IPM) resmi meluncurkan program Eco Smart School (ESS) dalam rangkaian Milad ke-65 dan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) PP IPM.
Program ini mengajak sekolah-sekolah untuk bertransformasi menjadi ruang pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga menanamkan tanggung jawab nyata terhadap kelestarian alam kepada para siswa sejak dini.
Eco Smart School lahir sebagai respons atas berbagai persoalan lingkungan yang kian mendesak, mulai dari krisis pengelolaan sampah, dampak perubahan iklim yang semakin terasa, hingga menurunnya kualitas ekosistem di berbagai wilayah Indonesia. Kondisi ini mendorong PP IPM untuk mengambil peran aktif dalam membentuk generasi pelajar yang tidak hanya melek isu lingkungan, tetapi juga mampu menerapkan kebiasaan ramah lingkungan dalam keseharian mereka di sekolah.
Melalui ESS, sekolah didorong untuk mengintegrasikan nilai-nilai ekologis ke dalam berbagai aspek, mulai dari pengelolaan sampah mandiri, efisiensi penggunaan sumber daya, hingga penanaman kesadaran kolektif bahwa menjaga lingkungan adalah tanggung jawab bersama bukan hanya tugas segelintir pihak.
Ketua Umum PP IPM, Dany Rahmat Muharram, menegaskan bahwa kepedulian terhadap lingkungan harus menjadi budaya bersama di kalangan pelajar Muhammadiyah. Menurutnya, isu lingkungan tidak bisa lagi dipandang sebagai persoalan sampingan, melainkan harus menjadi bagian dari identitas dan karakter pelajar yang dibentuk sejak di bangku sekolah.

Pernyataan tersebut sekaligus menegaskan arah gerakan IPM ke depan, yang tidak hanya berfokus pada penguatan kapasitas akademik dan keagamaan, tetapi juga pada isu-isu strategis seperti keberlanjutan lingkungan hidup.
Program ESS merupakan hasil kolaborasi PP IPM dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kementerian Kehutanan, yang menunjukkan bahwa inisiatif ini mendapat dukungan lintas sektor, termasuk dari pemerintah. Kolaborasi ini diharapkan dapat memperkuat basis kebijakan sekaligus memperluas jangkauan program di tingkat nasional.
Rencananya, ESS akan diterapkan secara bertahap di 65 titik di seluruh Indonesia—angka yang secara simbolis merepresentasikan usia PP IPM yang genap 65 tahun. Provinsi Lampung dipilih sebagai daerah percontohan pertama sebelum program ini direplikasi ke wilayah-wilayah lainnya.
Dengan peluncuran ESS, PP IPM berharap dapat menghadirkan model nyata sekolah yang tidak hanya mencetak pelajar unggul secara akademik, tetapi juga peduli dan bertanggung jawab terhadap kelestarian lingkungan hidup di masa depan.
Penulis: Yudhistira Ananta

