
Enam belas tahun lalu, sutradara Hanung Bramantyo menghadirkan karya besarnya melalui film Sang Pencerah. Film berdurasi 112 menit ini mengangkat kisah biografi Ahmad Dahlan dengan balutan drama historis yang kuat dan menyentuh. Deretan aktor berkualitas turut menghidupkan film ini, di antaranya Lukman Sardi sebagai Ahmad Dahlan dan Ihsan Tarore sebagai Ahmad Dahlan muda.
Film ini berlatar di Kampung Kauman, Yogyakarta, pada akhir abad ke-19 sebuah kawasan yang dikenal sebagai pusat kehidupan masyarakat Islam saat itu. Pada masa pemerintahan Hamengkubuwono VII, masyarakat masih memegang kuat tradisi yang bercampur dengan ajaran agama. Praktik seperti tahayul, bidah, dan khurafat masih banyak dijumpai, sehingga menjauhkan sebagian umat dari nilai-nilai Islam yang murni.
Pada tahun 1868, lahirlah seorang anak laki-laki bernama Muhammad Darwis, putra dari KH Abu Bakar dan Siti Aminah. Seiring bertumbuh, Darwis mulai menyadari adanya penyimpangan dalam praktik keagamaan, seperti pemberian sesajen hingga penyembahan terhadap benda-benda tertentu. Kegelisahan ini mendorongnya untuk menuntut ilmu ke Mekkah pada usia 15 tahun selama lima tahun. Sepulangnya ke tanah air pada tahun 1883, ia mengganti namanya menjadi Ahmad Dahlan dan mulai menyebarkan gagasan pembaruan (tajdid) dalam dakwahnya.
Perjalanan dakwah Ahmad Dahlan tidaklah mudah. Penolakannya terhadap praktik keagamaan yang tidak sesuai dengan ajaran Islam menimbulkan konflik, bahkan dari kalangan umat Islam sendiri. Salah satu polemik yang mencuat adalah upayanya meluruskan arah kiblat Masjid Gedhe Kauman yang dianggap tidak tepat menghadap Mekkah. Penentangan datang dari para ulama, termasuk Kyai Kholil yang saat itu menjabat sebagai hoofdpenghulu Keraton Yogyakarta. Konflik ini memuncak hingga terjadi pembakaran Langgar Kidul milik Ahmad Dahlan. Kekecewaan sempat membuatnya ingin meninggalkan Kauman, namun ia tetap bertahan berkat dukungan keluarga.

Dalam perjuangannya, Ahmad Dahlan memilih pendekatan pendidikan sebagai media dakwah. Ia mengajar di sekolah Belanda sebagai guru agama Islam, sekaligus mendirikan sekolah ibtidaiyah di rumahnya untuk mencerdaskan anak-anak Kauman. Selain itu, ia juga terlibat dalam organisasi Budi Utomo sebagai bagian dari semangat kebangkitan nasional. Puncaknya, pada 18 Juli 1912, ia mendirikan organisasi Muhammadiyah yang hingga kini terus berkembang dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Dari sisi teknis, film ini masih memiliki beberapa kekurangan. Beberapa dialog terasa kurang jelas terdengar, dan pencahayaan pada sejumlah adegan cenderung gelap. Namun demikian, kekurangan tersebut tidak mengurangi kekuatan utama film ini dalam menyampaikan pesan perjuangan yang dramatis dan penuh dinamika. Penonton diajak merasakan langsung tantangan yang dihadapi Ahmad Dahlan dalam memperjuangkan pembaruan Islam.
Akting para pemain tampil solid dengan penghayatan yang kuat, sehingga mampu menghidupkan suasana dan emosi dalam setiap adegan. Hingga saat ini, Sang Pencerah masih sering digunakan dalam kegiatan kaderisasi Muhammadiyah sebagai media pembelajaran sejarah yang efektif melalui pendekatan audio-visual. Film ini juga menjadi sarana refleksi atas perjuangan dakwah dan pentingnya pembaruan dalam kehidupan beragama.
Secara pribadi, saya juga memanfaatkan film ini dalam kaderisasi di organisasi Ikatan Pelajar Muhammadiyah sebagai upaya memberikan pemahaman sejarah yang lebih kontekstual dan menarik bagi generasi muda.
Penulis: Rizky Ilham Maulana

